chibialfa's scrap book RSS

My name is Alfa.
'chibi' means short.
I am female,
kind to animals,
junk collector,
doodling not drawing,
advertising junkies,
married to
a toy shop owner,
chibialfa is
a blogger
and
a microblogger.

this scrap book is part of:
chibialfa can't draw

Archive

Jun
24th
Wed
permalink

PEMULUNG NAIK KRL UNTUK MENGUBUR ANAKNYA

Artikel ini gue copy paste dari facebook notesnya adik gue. Enggak cuman liat ke atas, sekali-kali kita juga harus liat ke bawah untuk bercermin.

Bahkan saat kita perlu untuk bersyukur.

PEMULUNG NAIK KRL UNTUK MENGUBUR ANAKNYA
Salemba, Warta Kota

PEJABAT Jakarta seperti ditampar. Seorang warganya harus menggendong mayat anaknya karena tak mampu sewa mobil jenazah. Penumpang kereta rel listrik (KRL) jurusan Jakarta - Bogor pun geger Minggu (5/6). Sebab, mereka tahu bahwa seorang pemulung bernama Supriono (38 thn) tengah menggendong mayat anak, Khaerunisa (3 thn). Supriono akan memakamkan si kecil di Kampung Kramat, Bogor dengan menggunakan jasa KRL.

Tapi di Stasiun Tebet, Supriono dipaksa turun dari kereta, lantas dibawa ke kantor polisi karena dicurigai si anak adalah korban kejahatan. Tapi di kantor polisi, Supriono mengatakan si anak tewas karena penyakit muntaber. Polisi belum langsung percaya dan memaksa Supriono membawa jenazah itu ke RSCM untuk diautopsi.

Di RSCM, Supriono menjelaskan bahwa Khaerunisa sudah empat hari terserang muntaber. Dia sudah membawa Khaerunisa untuk berobat ke Puskesmas Kecamatan Setiabudi. “Saya hanya sekali bawa Khaerunisa ke puskesmas, saya tidak punya uang untuk membawanya lagi ke puskesmas, meski biaya hanya Rp 4.000,- saya hanya pemulung kardus, gelas dan botol plastik yang penghasilannya hanya Rp 10.000,- per hari,” ujar bapak 2 anak yang mengaku tinggal di kolong perlintasan rel KA di Cikini itu. Supriono hanya bisa berharap Khaerunisa sembuh dengan sendirinya. Selama sakit Khaerunisa terkadang masih mengikuti ayah dan kakaknya, Muriski Saleh (6 thn), untuk memulung kardus di Manggarai hingga Salemba, meski hanya terbaring digerobak ayahnya.

Karena tidak kuasa melawan penyakitnya, akhirnya Khaerunisa menghembuskan nafas terakhirnya pada Minggu (5/6) pukul 07.00. Khaerunisa meninggal di depan sang ayah, dengan terbaring di dalam gerobak yang kotor itu, di sela-sela kardus yang bau. Tak ada siapa-siapa, kecuali sang bapak dan kakaknya. Supriono dan Muriski termangu. Uang di saku tinggal Rp 6.000,- tak mungkin cukup beli kain kafan untuk membungkus mayat si kecil dengan layak, apalagi sampai harus menyewa ambulans. Khaerunisa masih terbaring di gerobak. Supriono mengajak Musriki berjalan menyorong gerobak berisikan mayat itu dari Manggarai hingga ke Stasiun Tebet, Supriono berniat menguburkan anaknya di kampong pemulung di Kramat, Bogor. Ia berharap di sana mendapatkan bantuan dari sesama pemulung.

Pukul 10.00 yang mulai terik, gerobak mayat itu tiba di Stasiun Tebet. Yang tersisa hanyalah sarung kucel yang kemudian dipakai membungkus jenazah si kecil. Kepala mayat anak yang dicinta itu dibiarkan terbuka, biar orang tak tahu kalau Khaerunisa sudah menghadap Sang Khalik. Dengan menggandeng si sulung yang berusia 6 thn, Supriono menggendong Khaerunisa menuju stasiun.

Ketika KRL jurusan Bogor datang, tiba-tiba seorang pedagang menghampiri Supriono dan menanyakan anaknya. Lalu dijelaskan oleh Supriono bahwa anaknya telah meninggal dan akan dibawa ke Bogor spontan penumpang KRL yang mendengar penjelasan Supriono langsung berkerumun dan Supriono langsung dibawa ke kantor polisi Tebet. Polisi menyuruh agar Supriono membawa anaknya ke RSCM dengan menumpang ambulans hitam.

Supriono ngotot meminta agar mayat anaknya bisa segera dimakamkan. Tapi dia hanya bisa tersandar di tembok ketika menantikan surat permintaan pulang dari RSCM. Sambil memandangi mayat Khaerunisa yang terbujur kaku.

Hingga saat itu Muriski sang kakak yang belum mengerti kalau adiknya telah meninggal masih terus bermain sambil sesekali memegang tubuh adiknya.

Pukul 16.00, akhirnya petugas RSCM mengeluarkan surat tersebut, lagi-lagi karena tidak punya uang untuk menyewa ambulans, Supriono harus berjalan kaki menggendong mayat Khaerunisa dengan kain sarung sambil menggandeng tangan Muriski. Beberapa warga yang iba memberikan uang sekadarnya untuk ongkos perjalanan ke Bogor. Para pedagang di RSCM juga memberikan air minum kemasan untuk bekal Supriono dan Muriski di perjalanan.

Psikolog Sartono Mukadis menangis mendengar cerita ini dan mengaku benar-benar terpukul dengan peristiwa yang sangat tragis tersebut karena masyarakat dan aparat pemerintah saat ini sudah tidak lagi perduli terhadap sesama. “Peristiwa itu adalah dosa masyarakat yang seharusnya kita bertanggung jawab untuk mengurus jenazah Khaerunisa. Jangan bilang keluarga Supriono tidak memiliki KTP atau KK atau bahkan tempat tinggal dan alamat tetap. Ini merupakan tamparan untuk bangsa Indonesia,” ujarnya.

Koordinator Urban Poor Consortium, Wardah Hafidz, mengatakan peristiwa itu seharusnya tidak terjadi jika pemerintah memberikan pelayanan kesehatan bagi orang yang tidak mampu. Yang terjadi selama ini, pemerintah hanya memerangi kemiskinan, tidak mengurusi orang miskin kata Wardah.

permalink

Interview Aldo Godoftoy dengan Majalah Retro

Profil pribadi
Nama lengkap: Aldo Khalid
Tanggal lahir: 1974
Status perkawinan: married (dgn Alfa Aphrodita)
Nama toko: zerotoys
Alamat toko: jl sunda 39A Bandung, 40112
Hobi: koleksi mainan, bikin mainan, main mainan…

Soal hobi mengumpulkan robot-robot Jepang:
1. Sudah berapa lama mengumpulkan robot robot Jepang retro/lawas? Bisa diceritakan asal muasalnya?
Sejak kecil (sekitar tahun 1980), sama seperti anak2 kecil lainnya.
Mulai mengumpulkan lagi sejak 1999, awal2 mendirikan zerotoys, dan mulai koleksi secara sangat aktif sejak 4 tahun terakhir, waktu mulai mendirikan museum.

2. Alasan mengumpulkan mainan robot tersebut?
Alasan pertama mengumpulkan mainan2 masa kecil?
Balas dendam!, karena banyak mainan yang dulu ingin dimiliki, tapi tidak dibelikan oleh orang tua. Begitu punya uang sendiri, mulai hunting buat dapat barang2 idaman masa lalu.
Alasan selanjutnya?
Belum pernah ada orang yang mengumpulkan mainan2 80an dalam suatu koleksi yang bisa dilihat/dinikmati oleh orang banyak, padahal mainan 80an boleh dibilang ‘golden age’ nya industri mainan, dimana banyak mainan paling inovatif ataupun unik lahir di era ini. Kalau nggak ada yang bikin, biar kita aja yang bikin museum ini.

3. Bisa diceritakan, bagaimana cara mengumpulkan robot sebanyak itu?
Jawaban utama: Gudang rumah orang lain.
80% mainan yang ada di museum zero kita dapatkan dari pemilik pertamanya yang masih menyimpan mainan2 tersebut digudangnya selama 25thn terakhir.
Melalui jaringan komunitas2 mainan yang ada, baik yang terbentuk dari toko zerotoys ataupun via forum2 internet, kita bisa mencari tahu informasi tentang siapa yang dulu waktu kecil punya mainan apa. Selanjutnya Cuma masalah merayu sipemilik buat menyumbangkan atau menjual atau barter mainan2 lama dia dengan sesuatu yang lain.

Sedikit catatan:
Saya berusaha untuk mendapatkan mainan2 lama yang memang pernah beredar di Indonesia, oleh karena itu dalam menambah koleksi saya tidak pernah menggunakan jalur ebay untuk mendapatkan koleksi baru. Selain karena alasan ini, hunting barang via ebay agak terlalu ‘gampang’ dan kurang berseni (menurut saya pribadi lho ini…)




4. Total berapa unit mainan robot-robot yang telah dikumpulkan?
Saat penghitungan terakhir, museum zero memiliki 1100 item koleksi. Jumlah itu terus bertambah sekitar 5 item setiap minggunya.

5. Tolong diceritakan, bagaimana mencari mainan robot tersebut? Suka dukanya?
Sama dengan pertanyaan 3 tadi, mungkin kalo ditambah dukanya:
- bongkar2 gudang berdebu jam 2 siang di jati bening? Panas berdebu! :P



6. mainan robot apa yang menurut lo paling berharga? Alasannya?
Justru beberapa mainan kecil yang (dulunya) tidak terlalu mahal. Alasannya, karena lebih susah untuk dicari! (logikanya: kalo seseorang dapat mainan mahal pasti dia akan berusaha merawat mainan tersebut. Akan tetapi mainan murahan yang bisa didapat dengan gampang? Kemungkinan dia akan pakai main sampai hancur berantakan)

7. Mainan robot lo yang paling mahal? Kenapa bisa mahal?
Voltus dan combattra V vintage buatan popy tahun 1977 (di Indonesia bisa sekitar 5-8jt rupiah. Di Ebay kadang2 bisa sampai diatas 1000USD)
Mahal karena semua orang kepengen punya barang itu (demand tinggi), sedangkan barangnya rapuh dan mahal, sehingga yang survive sangat jarang (supply sedikit)


8. Apa ada situs luar negeri yang direkomendasikan untuk mendapatkan mainan2 tersebut?
Ya. Ebay.com (walaupun saya sendiri sangat anti terhadap ‘evil bay’….. :D


Sejarah toko dan museum:
1. Apa alasan anda untuk membuka toko sekaligus museum?
Toko:awalnya karena kumpul2 dengan beberapa anak mainan, dan kita berpikir andai kata ada suatu tempat nangkring dimana kita bisa jual/beli/ majang mainan kita sambil ketemu dengan kolektor2 lain betapa indahnya hal tersebut……

Museum:awalnya ketika saya mulai menyadari bahwa mainan vintage yang dulunya gampang diperoleh semakin lama semakin susah didapat, betapa kerennya kalau semua barang yang pernah kita jual dizero bisa kita kumpulkan kembali dalam satu ruangan

2. Bisa diceritakan apa saja yang dijual dan tidak dijual dalam tempat anda ini?
Semua barang di zerotoys: DIJUAL
Semua barang di museum:TIDAK DIJUAL (walaupun terkadang kami membarterkan barang koleksi museum dengan barang vintage lain yang lebih berharga menurut kami)


3. Ada berapa lantai museum dan toko di rumah anda?
Zero dan museum berada digedung bekas rumah yang saya namakan zone#39.
Terdapat 2 lantai digedung ini, tapi karena layout arsitektur yang membingungkan, terasa seolah2 tempat ini lebih besar. Zerotoys menempati ruangan panjang dengan luas sekitar 15m2, sedangkan museum menempati dua ruangan (dilantai basemen dan ground floor) dengan luas sekitar 100m2.Ruangan satu didominasi oleh mainan2 jepang, sedangkan ruangan kedua didominasi mainan amerika. Didalam ruangan kedua juga terdapat koleksi amalgam kita (perpaduan budaya lokal dengan budaya jepang/amerika contoh: komik voltus buatan indonesia), dan juga ‘PD sahabat’, yaitu suatu display yang dibikin sebagai replika toko mainan pasar ditahun 80an.



4. apa tempat seperti ini sudah pernah ada di Indonesia?
Setahu saya? Belum.
Ada beberapa kolektor dengan koleksi pribadi yang cukup besar juga, akan tetapi mereka tidak memamerkan untuk kalangan umum, dan mereka pada akhirnya sekedar menjadi suatu koleksi mainan belaka. Museum mainan terdekat yang ada mungkin adalah MINT museum di Singapura, tapi mereka tidak melakukan spesialisasi, melainkan museum mainan secara general, sejak tahun 1900 sampai sekarang.

5. apakah bisa menjadi sebuah tempat hang out? Atau kumpul komunitas?
Ya, dimana zerotoys memang sejak awal berdirinya sudah dikonsepkan sebgai tempat hangout. Bahkan konsep tokonya pun adalah toko komunitas, dimana barang yang dijual bukanlah milik para pemilik toko, akan tetapi milik para kolektor2 dari komunitas mainan.

6. pernah mendapat penghargaaan dari lembaga atau komunitas tertentu?
Ya dan tidak.
Penghargaan resmi? Belum pernah ada yang ngasih, akan tetapi, detik dimana seorang pengunjung yg baru pertama ke museum masuk, tertegun, nggak bisa diajak ngomong selama beberapa saat, sambil dia bergumam “..Astaga, anjing…”???

Bagi kami itu adalah penghargaan tertinggi dari komunitas mainan.



Bandung, 24 Juni 2009

Related link: Godoftoy and his addiction to toys.

permalink
permalink
permalink

Test

From mobile New Email addresses available on Yahoo!
Get the Email name you’ve always wanted on the new @ymail and @rocketmail. Hurry before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/