Chibi means 'short' and my name is Alfa. This scrap book is part of:
chibialfa can't draw


Text

Jun 2, 2009
@ 3:03 pm
Permalink

Dufan dan buku harian Ayah.

Dulu waktu Dufan baru buka, saya masih es de kelas dua. Ibu saya janji, kalau saya masuk ranking 10 besar, akan dibawa jalan-jalan ke Dufan.

Saya belajar mati-matian sambil tak henti-hentinya membayangkan serunya naik Niagara-gara. Hasilnya? saya masuk ranking 5 besar.

Banyak hal yang udah saya lupain akibat umur, tapi scene ini masih detail terekam di kepala saya. Ruang tamu (merangkap ruang keluarga) di rumah kontrakan kami di Gunung Batu, Bandung. Karpet merah tipis yang menggundul di beberapa area, tempat saya suka tidur-tiduran sambil baca lima sekawan. Ibu saya duduk tercenung di kursi rotan sambil menghisap dalam-dalam rokok surya 16 beliau.

“Duh… darimana Ibu bisa dapet uang ya?”

Pelan, tapi dalam. Saya yang lagi asik telungkup dengan buku lima sekawan di karpet gundul pura-pura tidak mendengar. Jantung saya serasa perlahan copot sampai ke perut. Dan saya cuma bisa membayangkan Niagara-gara yang pernah saya lihat di brosur.

Ibu dan Ayah saya tidak bisa dapat uang tambahan untuk pergi ke Dufan seperti yang sudah dijanjikan. Sebagai gantinya, Ibu membawa saya ke Takara, amusement center di Bandung yang saat itu lagi keren-kerennya, dan punya semacam jet coaster mini indoor.

Cukup untuk mengobati kekecewaan saya enggak jadi liat Dufan.

Tahun depannya karena rejeki lebih, kami berhasil pergi ke Dufan. Perasaan gembira saya bisa naik Niagara-gara pastilah berkali lipat dibanding anak-anak lain saat itu.

Sebulan sebelum ayah saya berpulang, ia mengajak saya duduk bercakap-cakap, hanya berdua, dari hati ke hati. Ia bicara soal ketakuatannya, kekuatirannya, dan terakhir, ia bicara soal pilihan hidupnya.

“Ayah memilih jalan sulit. Waktu orang lain sudah jadi ahli bedah, Ayah malah berpetualang jadi tentara. Akibatnya kita miskin lama sebelum berkecukupan. Maafkan Ayah ya Nak kalau membuat hidup kamu sengsara”

Kata-kata Ayah saya sanggah dengan agak keras.

“Ayah enggak boleh menyesali jalan hidup yang sudah Ayah pilih. Saya jadi diri saya sekarang karena pilihan itu, dan saya oke oke aja kok dengan jadi diri saya sekarang… kok Ayah malah nyesel sih?”

Sekarang, kapan pun saya mau, saya bisa aja pergi Dufan dan naik Niagar-gara sepuasnya. Tapi intinya bukan itu. Intinya adalah nasihat yang almarhum Ayah saya tulis di diary yang dia kasih ke saya;

“If you can’t have what you like, maybe you can like what you have”

Bukan hal yang ambisius, tapi humble dan membuat saya cukup bisa menapakkan kaki ke tanah di tiap langkah yang saya pilih.

Saya akan mengajarkan hal yang sama ke anak saya nanti. Dengan sedikit adjustment;

“Tapi anakku, sebelumnya, kamu harus bener-bener tau, apa yang yang kamu inginkan”