THE NEVERLAND INSPIRATION (in memoriam Dejan Glusevic)
Dejan di-interview oleh sebuah stasiun TV barengan sama Aldo. Ia pergi tak lama setelah interview tersebut usai.
Article ini saya ambil dari sini.
Dejan Glusevic, atau yang biasa disapa dengan Dejan, harus pasrah masuk UGD RS Muhamadiah tepat di hari ulang tahunnya yang ke 13.
Dejan Sang Manajer
Dejan yg lahir di Bandung pada tgl 26 juni 1996 adalah salah satu pencetus gerakan The Neverland Playgrounds, yaitu gerakan taman bermain gratis milik yayasan Adikaka yang dibangun tepat bersebelahan dengan gang masuk rumahnya. Terkenal dengan kemampuan jajannya, namanya di duga adalah singkatan dari “Gede Jajan”. Dejan adalah anak yang punya kemampuan komunikasi yang luar biasa, keberaniannya menyapa orang dan berkenalan dengan siapa saja, menjadikan Dejan diangkat sebagai manajer Neverlands oleh anak2 sebayanya. Dejan adalah anak yang sangat aktif, dan sangat komunikatif kepada semua orang, baik kepada yang tua maupun yang muda. Semua orang sepanjang jalan Baranang siang Bandung mengenal sosok Dejan yang selalu ceria dan senang menyapa. Dejan, alumni SDN Patrakomala, yang baru minggu ini naik ke kelas 2 di SMP Pasundan 6, adalah anak bungsu dari pasangan Dadang Kardiana mantan Satpam yang kini berpenghasilan dari mendistribusikan minyak tanah.
Kemampuan dalam melakukan pendekatan ke orang, sangat jelas terlihat, sewaktu pada acara pertandingan skate “Volcom, wild in the parks” di Depok tahun 2007, ia bertanya pada saya:
” Om’ pei, kalau menyapa apa kabar dalam bahasa inggris gimana Om?”
“How are you sir?” kata ku, dan dejan langsung bergegas pergi.
Ia duduk, di sebuah bangku sambil pelan2 bergeser mendekati seklompok orang prancis yang sedang ngobrol. Tiba2 ia berbalik badan dan menyapa mereka: “How are you ? Sir? “.
Entah pakai bahasa apa, namun percakapan Dejan terus berlanjut hingga Dejan kembali berlari pada ku dan bilang:
“Cepet om pei, minta stiker dan kartu nama… katanya mereka mau mampir bandung minggu depan. :) ”
dan penuh kekaguman aku hanya menatap seorang calon PR (public Relation/ Humas) yang luar biasa yang pasti akan menjadi orang besar dijamannya kelak kata ku.
Namun Alloh memiliki rencana yang lain.
Dejan adalah salah satu pencetus Neverland Playground
“Neverland Playground tidak akan pernah berdiri bila bukan karena Dejan. Begitupun dengan komunitas Skatenya!” Itulah pernyataan yang aku lontarkan disaat anak-anak Neverland sempat menanyakan kenapa Dejan diangkat jadi anak Neverland Skater padahal belum bisa meluncur dengan mulus dari tempat skateboard yang tingginya 1,5m. Memang hal tersebut adalah salah satu syarat utk dapet kaos “Neverland skateboarder”.
“Keberanian Dejan beda!” kata ku.
“Dia mungkin lebih lama dalam mempelajari skill skateboard. Tetapi kemampuannya dalam menarik simpati orang, kepeduliannya dan perhatiannya terhadap teman itu lebih sulit diperoleh dan lebih berharga daripada trik skateboard mana pun.”
“Adakah yang bisa nyangkal kebranian Dejan dalam berkenalan dengan orang?” dan semua anak Neverland diam sambil geleng kepala.
Dejan, adalah anak yang pertama kali memberikan skateboardnya utk dimainkan oleh anak-anak, jauh sebelum siapapun bahkan bisa berdiri di atas sebuah papan skate. Ia yang menemani Nabil dan banyak anak2 kecil di baranang siang dalam bermain. Dia adalah inspirasi pencetus gagasa didirikannya sebuah taman bermain bagi anak-anak kecil. Karena sebuah kampanye “Never Grow Up” (kampanye bermain dengan anak) tidak pernah lengkap bila tidak difasilitasi dengan area bermain bebas. Dejan adalah anak kecil yang bersikap jauh lebih dewasa dalam menghadapi dan memperhatikan anak-anak di daerah Baranang Siang daripada orang dewasa manapun di daerah ini. Dan hingga kini keceriaan Dejan dalam bermain tetap menggema di telinga. ……….Menggema dalam hati.
Kepergian Dejan
Dejan masuk Rumah sakit, tepat 3 hari setelah penayangan acara “Cita-cita ku” di Trans 7. Ia berperan sebagai tokoh utama yang mencoba memperbaiki Robot Gundam yang secara tidak sengaja dirusak oleh pemain2 Skateboard (Endo, Ujang dan Robi) dan membuat Diorama di Zero Toys bersama Om Aldo dan Ridwan. Dejan hingga kini belum sempat nonton acaranya sendiri yang ditayangkan pada hari rabu.
“Endo, dejan nonton ngak?” kata ku pada salah satu anak Neverland,” Enggak om Pei, Dejan lagi Sakit.”
Pada jumat pagi, saya mendapat kabar bahwa Dejan terkujur kaku sambil kejang-kejang di kamarnya. Bergegas kami lari ke rumahnya. Dejan setengah sadar, jari2 tanganya kaku bagaikan mencengkram batu yang tembus pandang di depan dadanya. Ia melihatku, dan ibunya bertanya,
“Dejan lihat! siapa itu? Dejan? Dejan inget ngak?”
“O..om pe..i” Dejan menjawab dengan nada lemah.
Keluarganya dengan sigap menyiapkan SKTM (surat keterangan tidak mampu) untuk di rujuk ke RS Muhamadiah. Sebelumnya dejan telah berobat ke Dokter Umat sehat, dan cek darah ke lab, namun menurut diagnosa, hasil tes darahnya baik. Berdasarkan tes lab tersebut Dejan di diagnosa sakit panas biasa oleh dokter Umat Sehat.
Di IGD Rumah Sakit Muhamadiah, dejan di diagnosa Tetanus, akibat terjadi kejang2 disaat terkena sinar cahaya dan hiruk pikuk orang. Menurut dokter setempat Dejan harus masuk ruang isolasi. Disayangkan ruang isolasi RS Muhamadiah sedang penuh.
Aku mengusulkan masuk RS. Santosa, karena memiliki pengalaman yang cukup baik dengan Rumah sakit tersebut. Namun, memang pembiayaan SKTM hanya ditanggung hingga 2/3 dari keseluruhan biaya pengobatan. Menurut Dokter Muhamadiah meskipun sebagian di tanggung oleh pemerintah, 1/3 dari biaya rumah sakit swasta tersebut akan tetap terasa cukup tinggi melihat kondisi ekonomi keluarga Dejan. Hal tersebut tetap dapat menjadi cukup berat karena pengobatan bisa mencapai di atas 20jt an, berhubung fasilitas yang dibutuhkan antara lain ruangan isolasi dll. Fasilitas khusus tersebut tidak ada pada semua rumah sakit lain. Dokter menyarankan lebih baik ke RSHS, meskipun disana pasti penuh, namun IGD (instalasi unit gawat darurat) RSHS, dan tenaga dokternya cukup banyak hingga bisa menangani keadaan Dejan, meskipun di IGD.
Dejan diputuskan untuk pindah ke RSHS menggunakan Ambulance. Di IGD RSHS, Dejan di diagnosa bukan menderita tetanus melainkan DB. Setelah beberapa lama berada di installasi Gawat Darurat, Dejan dipindahkan ke ruangan perawatan Anak A2 ruang 2.
Hari minggu tgl 28 juni sore, disaat anak2 Neverland diberikan kesempatan berkunjung, saya bertemu dengan Dokter dan ia menyatakan bahwa Dejan tidak menderita DB. Untuk dilakukan diagnosa Dejan harus diambil cairan dari otak melalui tulang belakang. Namun sebelum tes tersebut dapat dilakukan Dejan memasuki masa kritis pada hari senin subuh dan menghembuskan nafas terakhirnya jam 7 pagi 29 juni 2009.
“Insya Allah Dejan sendiri kini hanya tinggal bersenang-senang bersama Allah…” adalah kutipan SMS belasungkawa dari seorang sahabat yang ikut berduka…
“Aku yakin bahwa Dejan menjadi cahaya keceriaan yang semakin menerangkan surga… tempat ia kini bermain bersama Rasul dan para orang orang ber Iman.”
In Memoriam
Dejan Glusevic
BANDUNG 26 JUNI 1996-29 Juni 2009 atas nama semua anak2 Neverland
OmPei
